Sistem ENDOKRIN dalam tubuh

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makalah ini penulis buat karena dalam pembelajaran di Universitas ini memerlukan banyak bahan untuk pertimbangan. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
1.2 Tujuan
Makalah ini penulis buat untuk menambah pengetahuan para pembaca tentang kelenjar endokrin, urat saraf dan immunologi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kelenjar Endokrin
Pada kehamilan sepuluh minggu kortikotropin telah dapat ditemukan dalam hipofisis janin. Hormon ini diperlukan untuk mempertahankan glandula suprarenalis janin. Pada suatu pembuktian dengan mengadakan dekapitasi janin in utero, yang mengakibatkan glandula suprarenalis janin tersebut menjadi trofik.
Hormon somatummammotropin ditemukan di daerah tali pust dengan akdar yang tinggi. Hormon ini dibentuk di plasenta di samping oleh hipofisi janin, meskipun dalam jumlah yang terbatas. Dekapitasi fetus in utero tidak mengganggu tumbuhnya badan janin.
Thyroid stimulating hormone (tirotropin) telah dapat ditemukan pada kehamilan 10 minggu. Hanya sedikit tirotropin dari ibunya dapat melindungi plasenta. Pada kehamilan 10 – 14 minggu kelenjar gondok janin telah berfungsi menyimpan iodium dan menghasilkan tiroksin. Berhubung plasenta bagian fetal menyimpan iodium dan kelenjar gondok janin, maka pemberian radioaktiv iodium atau pemberian iodium terlampau banyak akan mempengaruhi janin. Kretin yang tidak mempunyai kelenjar gondok tidak dapat tumbuh sempurna karena hormon tiroid ibu tidak dapat melintasi plasenta dengan baik untuk mengatasi kekurangan tiroksin pada janin.
Glandula suprarenalis janin jauh lebih besar dari orang dewasa. Yang membuatnya lebih besar adalah bagian korteks.
2.2 Urat Saraf
Jika janin pada kehamilan 10 minggu dilahirkan hidup, maka dapat dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan-gerakan spontan. Rangsangan lokal dapat membuat janin menganga dalam mengadakan fleksi pada jari-jari tangan dan kaki. Gerakan menelan baru terjadi pada kehamilan 4 bulan, sedangkan menyedot baru pada kehamilan 6 bulan. Dalam triwulan terakhir hubungan antara urat saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih sempurna, sehingga janin yang dilahirkan sesudah kehamilan 32 minggu dapat hidup di luar kandungan. Pada bagian dalam tengah dan luar telinga dibentuk dalam triwulan kedua. Dewasa ini dipakai untuk penilaian adanya kelainan organik pada urat saraf ultra sonografi (USG) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Meskipun pegaruh buruk dari USG dan MRI (Genetik atau Onkologik) belum diketahui maka pemakaiannya dalam trimester pertama, sewaktu organogenesis sedangkan berlangsung dengan ehbatnya, seyogyanya tidak dilakukan.
MRI dipakai dalam obstetri untuk menilai janin dengan resiko tinggi. Dalam trimester terakhir keadaan paru dan otak janin dapat dengan jelas dilihat.
2.3 Immunologi
Smith mengemukakan bahwa dari kehamilan 8 minggu tidak ada gejala terjadinya kekebalan dengan adanya limfosit. Limfosit di sekitar tempat timus. Kelak, jumlah folikel-folikel limfe yang terbanyak terdapat pada akhir kehamilan.
Benda-benda penangkis humoral dibentuk oleh sel-sel limfoid dalam bentuk molekul-molekul imunoglobulin, terdiri atas pasangan-pasangan satuan polipeptid yang simetrik. Pasangan terdiri atas molekul, gamma-G atau gabungan polimer-polimer gamma-A dan gamma-M imuno-imuno globulin. Gamma-G ditemukan banyak pada orang dewasa, akan tetapi sedikit sekali pada janin. Akan tetapi, gamma-G globulin pada janin berasal dari ibunya dan disalurkan melalui plasenta dengan cara pinisitosisi. Inilah yang disebut kekebalan pasif.
Gamma-M imunoglobulin ditemukan antara lain pada infeksi dengan sitomegalovirus. Pembentukan benda penangkis ini sedini-dininya ditemukan baru pada kehamilan 5 bulan.
Gamm-A imunoglobulin telah dapat dibentuk pada kehamilan dua bulan dan baru banyak ditemukan segera sesudah bayi dilahirkan. Khussnya di sekret dari traktus digestivus dan respiratorius, kelenjar liur, pankreas atau traktus urogenitalis.
Produksi gamma-M imunoglobulin meningkat segera setelah bayi dilahirka. Ditemukan bahwa gamma-M imunoglobulin kurang lebih 1000 kali lebih efektif dari pada gamma-G imunoglobulin dalam mengatasi infeksi oleh bakteri dalam alat pencernaan.
Kelemahan pada bayi yang baru dilahirkan ialah bahwa ia hanya dilindungi oleh gamma-G imunoglobulin ibu yang terbatas kadarnya dan pula kurangnya gamma-A imunoglobuliln di permukaan alat-alat pencernaan seperti tersebut di atas. Oleh sebab itu kemungkinan bahwa neonatus tidak dapat mengatasi infeksi dan mengalami sepsis besar sekali.
Perlindungan pasif yang diterima oleh janin dari ibu dalam bentuk gamma-G imunoglobulin yang disalurkan melalui plasenta terjadi pada imunisasi terhadap difteria, tetanus, campak, cacar, polio mielitis, coxsackie virus, dan herpes simpleks. Bayi mendapat kekebalan sampai 6 bulan. Tidak demikian halnya dengan kekebalan untuk penkokokus, bacillus influenzae, streptokokus, stafilokokus, dan H-antigen bacillus typhi. Terhadap disentri basiler kadang-kadang masih ada kekebalan, akan tetapi untuk escherichia coli dapat dikatakan sama sekali tidak ada kekebalan. Benda penangkis ditemukan pula di dalam air susu ibu pertama (kolostrum) sebagai gamma-A imunoglobulin.
Seperti diketahui, janin mengandung unsur-unsur ayahnya dan seharusnya pada tempt implantasi plasenta timbul suatu reaksi, seperti bilamana kulit seorang anak ditransplantasi pada ibunya, ialah suatu reaksi yang dikenal sebagai allograft rejection.
Banyak teori dikemukakan mengenai mengapa plasenta itu tidak mengikuti hukum imunologi.
1. Uterus adalah suatu tempat khusus untuk plasenta, sehingga mudah diterima.
2. Perubahan hormonal dalam kehamilan membuat seorang wanita hamil lebih dapat menerima plasenta.
3. Janin membuat histamin demikian banyak sehingga dapat mencegah adanya iskemia yang dijumpai pada graft rejection.
4. Dikemukakan oleh Currie dan Bagshawe bahwa trofoblas diliputi oleh suatu lapisan sialomusin. Lapisan yang sangat tipis ini adala mucopoly sacharide sulphale yang dihasilkan oleh sinsitium dan meningkatkan hidrasi permukaan sel trofoblas sehinga transplantasi antigen tidak menimbulkan reaksi limfosit ibu yang biasanya mengadakn penolakan terhadap cangkokan.
5. Swinburne mengemukakan teorinya dengan adanya rangsangan antigen terus menerus selama kehamilan, sehingga mengakibatkan kebocoran darah sedikit demi sedikit melintasi plasenta.
Pada permulaan kehamilan ibu telah harus makan makanan yang mempunyai nilai gizi yang bermutu tinggi, tetapi tidak perlu yang mahal-mahal, karena apabila terdapt defisiensi makanan ketika hamil pada triwulan pertama, sering terjadi abortus, sedangkan jika terjadi pada triwulan berikutnya, dapat berakibat partus prematurus. Apabila bayi ini masih terus hidup, kesehatannya akan selalu terganggu dan hampir selalu ditemukan keadaan anemia pada anak tersebut. Makanan terutama pada triwulan terakhir, harus mengandung banyak protein. Di Indonesia, dimana masih banyak ditemukan diefisiensi Fe dan vitamin B, pada calon ibu itu tidak baik diberikan Fe sebagai sulfas ferrosus 200 mg 3 kali sehari, kalsium dan tablet berisi macam-macam vitamin.
Di Indonesia cukup ada bahan makanan yang mengandung protein hewani dan nabati, sayur mayur yang beraneka ragam, lebih-lebih buah-buahan, sehingga sebenarnya tidak perlu sampai terjadi seorang ibu atau bayinya yang dilahirkan menderita salah satu defisiensi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa kelenjar endokrin, urat saraf dan immunologi harus diketahui oleh seluruh pembaca khususnya bagi seorang bidan.
Kelenjar endokrin, urat saraf dan immunologi terdapat pada janin.
3.2 Kritik dan Saran
Kritik dan saran bagi pembaca agar pembaca lebih meningkatkan kebiasaan membaca agar dapat menambah pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Wijnjosastro, Hanifa. Ilmu Kebidanan. 2006. Yayasan Bina Pustaka. Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Read more: http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2011/11/makalah-kelenjar-endokrin.html#ixzz1ydF1ADu9

Pengertian Hidup Sehat

Pengertian budaya hidup sehat  adalah konsep hidup yang mengedepankan upaya-upaya dan kegiatan-kegiatan hidup yang sehat. Dengan penerapan konsep hidup sehat ini, maka kita dapat terhindar dari berbagai penyakit yang mungkin dapat menyerang tubuh kita. Mulai dari jenis penyakit menular atau bahkan penyakit yang tidak menular.
 
Setidaknya dalam hal ini kita secara terus menerus mencoba untuk mensosialisasikan pengertian budaya hidup sehat kepada masyarakat. Hal ini sangat penting sebab salah satu dasar kebahagiaan hidup kita adalah kesehatan tubuh. Selain itu, juga dicontohkan adanya pengaruh dan manfaat yang positif dalam kehidupan ketika budaya hidup sehat semakin dilestarikan dalam kehidupan masyarakat.
 
Jika tubuh kita sehat, maka segala kegiatan hidup kita dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan, hal tersebut hanya dapat kita capai jika pengertian budaya hidup sehat sudah menjadi bagian integral diri kita. Namun sebaliknya, jika hal itu tidak diperhatikan dengan baik, maka segala kegiatan hidup akan tidak terencana dan terkesan kacau dan ruwet.
 
Kita memang sudah seharusnya membudayakan hidup sehat dalam kehidupan masyarakat kita. Dengan program pembudayaan hidup sehat, maka setidaknya kita dapat membiasakan setiap personal agar hidup sehat. Jika setiap personal mampu membiasakan hidup sehat, maka pengaruhnya akan berkembang baik dalam lingkungan masyarakat secara komunal hingga menyeluruh.
 
Apalagi untuk keluarga kecil, maka budaya hidup sehat bukanlah sesuatu yang sulit untuk diterapkan. Jika semua anggota keluarga memahami pengertian budaya hidup sehat, maka secara serempak kita dapat menerapkan pola hidup sehat. Keluarga kecil menjadi bagian dari langkah utama pembiasaan budaya hidup sehat yang tepat. Alasannya tentu berkaitan dengan jumlah personal dan mudahnya membentuk kesadaran hingga menjadi kebiasaan.
 
Keluarga kecil akan merasakan kenyamanan dengan adanya budaya hidup sehat yang mereka biasakan hingga lahirlah kesadaran. Ketika hal itu sudah berlangsung secara maksimal, maka akan tampak pada kehidupan masyarakat secara komunal hingga menyeluruh. Inilah pengaruh positif  yang asalnya dari pembiasaan keluarga kecil.
 
Keluarga kecil yang sehat
 
Keluarga kecil adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. Dalam keluarga kecil ini,masing-masing elemen mempunyai peranan masing masing. Adapun hal yang jika diperlukan, maka mereka dapat mensinkronkan diri untuk berperan secara bersama-sama. Hal itu tentu saja berkaitan dengan jumlah di dalam keluarga tersebut yang masih dalam jangkauan pengawasan secara maksimal.
 
Dalam kebersamaan untuk berbagai macam kegiatan keluarga, maka masalah kesehatan dalam keluarga bukanlah masalah rumit. Setiap anak dapat menerapkan konsep kesehatan sehingga pola kehidupannya sangat kental dengan gaya hidup sehat. Tentu saja anak akan mencontoh kebiasaan orang tuanya secara berproses terutama dalam hal menjaga kesehatan.
 
Mereka tidak akan melakukan hal-hal yang dapat mengancam kesehatan dirinya dan juga keluarganya. Mereka menjaga kesehatan diri dan keluarganya secara maksimal dengan berperan aktif dalam pengkondisian hidup keluarga. Langkah pengkondisian tersebut dapat dimulai dari menjaga kesehatan makanan, minuman, lingkungan dalam rumah, lingkungan luar rumah, kesehatan diri sendiri dan sebagainya.
 
Penerapan budaya hidup sehat akan sangat efektif jika keluarga termasuk dalam kelompok keluarga kecil. Hal ini  tentu saja karena keluarga kecil memungkinkan kita terus berinteraksi dan komunikasi aktif untuk setiap orang pada setiap situasi dan kondisi. Keluarga kecil ini akan terus mengupayakan membentuk keluarga sehat setiap waktunya dengan cara pengontrolan yang mudah dan efektif setiap hari.
 
Kebersamaan dan keakraban kita itulah yang menyebabkan keluarga kecil mempunyai kesempatan menerapkan gaya hidup sehat sebaik-baiknya daripada keluarga besar. Keluarga dengan jumlah anak banyak yang memiliki kemungkinan membutuhkan upaya lebih banyak daripada keluarga kecil.
 
Hal-hal yang Mencerminkan Gaya Hidup Sehat
 
Untuk dapat mencapai kondisi hidup dengan tingkat kesehatan maksimal, maka kita memang harus menerapkan gaya hidup sehat secara maksimal pula. Untuk hal tersebut, maka setidaknya kita mengetahui beberapa pola hidup yang mencerminkan hidup sehat dan sebenarnya semua itu bukanlah sesuatu yang mahal untuk menebus harga kesehatan yang begitu mahal. Pola tersebut adalah:
1. Berolahraga secara rutin
Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat! Begitu sebuah pepatah kita dengar setiap saat. Dan, memang kenyataannya seperti itu, jika tubuh kita sehat, maka kemampuan pikiran kita dapat maksimal. Dengan kemampuan pikiran maksimal tersebut, maka hal tersebut mencerminkan tingkat kesehatan jiwa atau pikiran kita.
 
Dan, salah satu cara untuk dapat menyehatkan pikiran adalah dengan berolahraga secara teratur. Dalam konteks ini, kita tidak hanya mendapatkan  kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan jiwa.

Oleh karena itulah, untuk membudayakan hidup sehat dengan menerapkan gaya atau pola hidup sehat. Adapun salah satu cara yang dapat kita terapkan adalah dengan berolahraga secara rutin. Tentunya olahraga yang dimulai dengan olahraga ringan tapi teratur.

2. Mengkonsumsi makanan sehat
Makanan seringkali menjadi sumber penyakit! Ya, seringkali penyakit yang kita derita adalah akibat dari makanan yang kita konsumsi.
Hal paling utama yang harus kita sadari adalah bahwa hampir seluruh jenis penyakit berawal dari lambung atau perut kita. Dan, hal tersebut berarti terkait dengan makanan yang kita konsumsi. Jika kita salah mengkonsumsi makanan, maka akibatnya dapat menyebabkan kita sakit.
Oleh karena itulah, untuk membudayakan hidup sehat, maka salah satunya adalah dengan cara membudayakan mengkonsumsi makanan sehat. Dengan cara seperti ini, maka lambung, perut kita tidak mengalami sakit dan secara signifikan  hal tersebut mencegah tubuh kita sakit.
3. Istirahat yang cukup
Istirahat dibutuhkan tubuh untuk memberikan kesempatan tubuh, organ-organ tubuh melakukan regenerasi dengan mengembalikan kesegaran masing-masing organnya.
Dengan istirahat, maka beban kerja organ tubuh dapat terkurangi, dihilangkan sehingga tidak lagi bekerja keras. Dengan demikian, maka organ tubuh tidak capek dan sebagainya.
Dalam menerapkan gaya hidup sehat, kita harus menerapkan atau memberikan kesempatan kepada organ tubuh untuk beristirahat dari kerja keras yang dilakukannya sepanjang hari. Dengan kesempatan istirahat tersebut, maka kebugaran organ tubuh dapat dijaga.
Istirahatlah yang cukup, maka tubuhmu akan kembali segar dan akan terasa lebih nikmat dan nyaman. Dengan istirahat yang cukup, maka kita menjadi orang yang beruntung.
 
Budaya hidup sehat memang sudah seharusnya diterapkan sejak sekarang, walaupun agak terlambat. Hal ini karena kesehatan itulah yang menyebabkan hidup kita bahagia dan nyaman. Jika kita sehat, hidup terasa hidup dan indah. Tetapi jika hidup tidak sehat, rasanya sangat tersiksa.

Pengertian HIV/AIDS

A.    Pengertian HIV/AIDS
AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia seesudah system kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena bebrbagai jenis infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering kali menderita keganasan,khususnya sarcoma Kaposi dan imfoma yang hanya menyerang otak. Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. Retrovirus mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selam periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode imkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam prose itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit.
Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitu gag, pol, dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh, Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase, protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.
 
 
Siklus Hidup  HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu baru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
·         Masuk dan mengikat
·         Reverse transkripstase
·         Replikasi
·         Budding
·         Maturasi
 
 
Tipe HIV
Ada 2 tipe HIV yang menyebabkan AIDS: HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1 dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d seluruh dunia
 
 
B.     Etiologi
HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human T-cell leukemia virus 111  (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus (retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.
Hiv TERDIRI ATAS hiv-1 DAN hiv-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk merusak sel darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4). Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.
 
 
C.    Patofisiologi Virus HIV/AIDS
1.      Mekanisme system imun yang normal
Sistem imun melindungi tubuh dengan cara  mengenali bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh, dan bereaksi terhadapnya. Ketika system imun melemah atau rusak oleh virus seperti virus HIV, tubuh akan lebih mudah terkena infeksi oportunistik. System imun terdiri atas organ dan jaringan limfoid, termasuk di dalamnya sumsum tulang, thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix, darah, dan limfa.
o   Sel B
Fungsi utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral. Masing-masing sel B mampu mengenali antigen spesifik dan mempunyai kemampuan untuk mensekresi antibodi  spesifik. Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen, membuat antigen lebih mudah untuk difagositosis (proses penelanan dan pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan membungkus antigen dan memicu system komplemen (yang berhubungan dengan respon inflamasi).
o   Limfosit T
Limfosit T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
a.       Regulasi sitem imun
b.      Membunuh sel yang menghasilkan antigen target khusus.
Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakannya dengan sel lain. Sel CD4+ adalah sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer sel dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel CD8+ membunuh sel yang terinfeksi oleh virus atau bakteri seperti sel kanker.
o   Fagosit
o   Komplemen
 
2.      Penjelasan dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV
Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitu gag, pol, dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann, Rockhstroh, Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase, protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.
Siklus Hidup  HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu beru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
·         Masuk dan mengikat
·         Reverse transkripstase
·         Replikasi
·         Budding
·         Maturasi
 
3.      Tipe dan sub-tipe dari virus HIV.
Ada 2 tipe HIV yang menyebabk
an AIDS: HIV-1 yang HIV-2. HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1 dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d seluruh dunia.
 
4.      Efek dari virus HIV terhadap system imun
·         Infeksi Primer atau Sindrom Retroviral Akut (Kategori Klinis A)
Infeksi primer berkaitan dengan periode waktu di mana HIV pertama kali masuk ke dalam tubuh. Pada waktu terjadi infeksi primer, darah pasien menunjukkan jumlah virus yang sangat tinggi, ini berarti banyak virus lain di dalam darah.
Sejumlah virus dalam darah atau plasma per millimeter mencapai 1 juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering menunjukkan sindrom retroviral akut. Tanda dan gejala dari sindrom retrovirol akut ini meliputi : panas, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, berkeringat di malam hari, kehilangan berat badan, dan timbul ruam. Tanda dan gejala tersebut biasanya muncul dan terjadi 2-4 minggu setelah infeksi, kemudian hilang atau menurun setelah beberapa hari dan sering salah terdeteksi sebagai influenza atau infeksi mononucleosis.
Selama imfeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam darah menurun dengan cepat. Target virus ini adalah limfosit CD4+ yang ada di nodus limfa dan thymus. Keadaan tersebut membuat individu yang terinfeksi HIV rentan terkena infeksi oportunistik dan membatasi kemampuan thymus untuk memproduksi limfosit T. Tes  antibody HIV dengan menggunakan enzyme linked imunoabsorbent assay (EIA) akan menunjukkan hasil positif.
 
5.      Cara penularan HIV/AIDS
Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :
1.      Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai selaput lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995). Selama berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding vagina, dubur, dan mulut yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah pasangan seksual (Syaiful, 2000).
2.      Ibu pada bayinya
Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50% (PELKESI, 1995). Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).
3.      Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4.      Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alat-alat lain yang darah,cairan vagina atau air mani yang terinfeksi HIV,dan langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5.      Alat-alat untuk menoleh kulit
Alat tajam dan runcing seperti jarum,pisau,silet,menyunat seseorang, membuat tato,memotong rambut,dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa disterilkan terlebih dahulu.
6.      Menggunakan jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di gunakan oleh parah pengguna narkoba (injecting drug user-IDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai IDU secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur, pengaduk,dan gelas pengoplos obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu tangan,toilet yang di pakai secara bersama-sama,berpelukan di pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, gigitan nyamuk,dan hubungan social yang lain.
 
 
D.    Manifestasi Klinis
Gejala dini yang sering dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai flu biasa sebelum tes serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat badan lebih dari 10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik, kelelahan, limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi HIV yaitu :
1.Infeksi HIV Stadium Pertama
Pada fase pertama terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi gejala-gejala yang mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.
 
 
2.Persisten Generalized Limfadenopati
Terjadi pembengkakan kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu malam atau kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh jamur kandida di mulut.
3.AIDS Relative Complex (ARC)
Virus sudah menimbulkan kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi berbagai jenis infeksi yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini penderita menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.
4.Full Blown AIDS.
Pada fase ini sistem kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap infeksi sehingga dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru pneumocytik, sarcoma kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman opportunistik, gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum saatnya. Jarang penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum waktunya.
 
 
E.     Komplikasi
a.       Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b.      Neurologik
1.      kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
2.      Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
3.      Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
4.      Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c.        Gastrointestinal
1.      Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma   Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
2.      Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
3.      Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
 
 
d.      Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek  ,batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.
e.       Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f.       Sensorik
·         Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
·         Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.
F.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan uji antibody terhadap antigen virus structural. Hasil positif palsu dan negative palsu jarang terjadi.
2.      Untuk transmisi vertical (antibody HIV positif) dan serokonversi (antibody HIV negative), serologi tidak berguna dan RNA HIV harus diperiksa. Diagnosis berdasarkan pada amflikasi asam nukleat.
3.      Untuk memantau progresi penyakit, viral load (VL) dan hitung DC4 diperiksa secara teratur (setiap8=12 minggu). Pemeriksaan VL sebelum pengobatan menentukan kecepatan penurunan CD4, dan pemeriksaan pascapengobatan (didefinisikan sebagai VL <50 kopi/mL). menghitung CD4 menetukan kemungkinan komplikasi, dan menghitung CD4 >200 sel/mm3 menggambarkan resiko yang terbatas. Adapun pemeriksaan penunjang dasar yang diindikasikan adalah sebagai berikut :
Semua pasien                                                  CD4 <200 sel/mm3
Antigen permukaan HBV*                              Rontgen toraks
Antibody inti HBV+                                       RNA HCV
Antibody HCV                                               Antigen kriptokukus
Antibody IgG HAV                                       OCP tinja
Antibody Toxoplasma                                   
Antibody IgG sitomegalovirus                       CD4 <100 sel/mm3
Serologi Treponema                                        PCR sitomegalovirus
Rontgen toraks                                             Funduskopi dilatasi
Skrining GUM                                                EKG
Sitologi serviks (wanita)                                 Kultur darah mikrobakterium
·         HAV, hepatitis A, HBV, hepatitis B, HCV, hepatitis C
·         *Antigen/antibody e HBV dan DNA HBV bila positif.
·         + Antibodi permukaan HBV bila negative dan riwayat imunisasi
·          Bila terdapat kontak/riwayat tuberculosis sebelumnya, pengguna obat suntik dan pasien dari daerah endemic tuberculosis.
4.      ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) adalah metode yang digunakan menegakkan diagnosis HIV dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu sebesar 98,1-100%. Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah infeksi.
5.      WESTERN blot adalah metode yang digunakan menegakkan diagnosis HIV dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaanya cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
6.      PCR (polymerase Chain Reaction), digunakan untuk :
a.       Tes HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada pada bayi yang dapat menghambat pemeriksaan secara serologis. Seorang ibu yan menderita HIV akan membentuk zat kekebalan untuk melawan penyakit tersebut. Zat kekbalan itulah yang diturunkan pada bayi melalui plasenta yang akan mengaburkan hasil pemeriksaan, seolah-olah sudah ada infeksi pada bayi tersebut. (catatan : HIV sering merupakan deteksi dari zat anti-HIV bukan HIV-nya sendiri).
b.      Menetapakan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok berisiko tinggi.
c.       Tes pada kelompok berisiko tinggi sebelum terjadi serokonversi.
d.      Tes konfirmasi untuk HIV-2, sebab ELISA mempunyai sensitivitas rendah untuk HIV-2.
7.      Serosurvei, untuk mengetahui prevalensi pada kelompok berisiko, dilaksanakan 2 kali pengujian dengan reagen yang berbeda.
8.      Pemeriksaan dengan rapid test (dipstick).
 
 
G.    Tata Laksana HIV
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1.      Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
2.      Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.
3.      Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4.      Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5.      Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu :
1.      Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
1.      Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
1.      Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
1.      Didanosine
2.      Ribavirin
3.      Diedoxycytidine
4.      Recombinant CD 4 dapat larut
 
1.      Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
1.      Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
2.      Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series
 
Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga
 
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog Kedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara
 
Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
 
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

kesehatan Reproduksi

A. Kesehatan Reproduksi
Pengertian Kesehatan Reproduksi
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 23 Tahun 1992).
Definisi ini sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial, ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syarat baru, yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
Kesehatan reproduksi berarti bahwa orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, dan mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan keinginannya, kapan dan frekuensinya.
 
B. Hak yang Terkait Dengan Kesehatan Reproduksi
Membicarakah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dengan soal hak reproduksi, kesehatan seksual dan hak seksual. Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan waktu kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.
 
 
 
a. Kesehatan Seksual
Kesehatan seksual yaitu suatu keadaan agar tercapai kesehatan reproduksi yang mensyaratkan bahwa kehidupan seks seseorang itu harus dapat dilakaukan secara memuaskan dan sehat dalam arti terbebas dari penyakit dan gangguan lainnya. Terkait dengan ini adalah hak seksual, yakni bagian dari hak asasi manusia untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab terhadap semua hal yang berhubungan dengan seksualitas, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan.
 
b. Prinsip Dasar Kesehatan Dalam Hak Seksual dan Reproduksi
• Bodily integrity, hak atas tubuh sendiri, tidak hanya terbebas dari siksaan dan kejahatan fisik, juga untuk menikmati potensi tubuh mereka bagi kesehatan, kelahiran dan kenikmatan seks aman.
• Personhood, mengacu pada hak wanita untuk diperlakukan sebagai aktor dan pengambilan keputusan dalam masalah seksual dan reproduksi dan sebagai subyek dalam kebijakan terkait.
• Equality, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dan antar perempuan itu sendiri, bukan hanya dalam hal menghentikan diskriminasi gender, ras, dan kelas melainkan juga menjamin adanya keadilan sosial dan kondisi yang menguntungkan bagi perempuan, misalnya akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi.
• Diversity, penghargaan terhadap tata nilai, kebutuhan, dan prioritas yang dimiliki oleh para wanita dan yang didefinisikan sendiri oleh wanita sesuai dengan keberadaannya sebagai pribadi dan anggota masyarakat tertentu.
• Ruang lingkup kesehatan reproduksi sangat luas yang mengacakup berbagai aspek, tidak hanya aspek biologis dan permasalahannya bukan hanya bersifat klinis, akan tetapi non klinis dan memasuki aspek ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Oleh karena aitu diintroduksi pendekatan interdisipliner (meminjam pendekatan psikologi, antropologi, sosiologi, ilmu kebijakan, hukum dan sebagainya) dan ingin dipadukan secara integratif sebagai pendekatan transdisiplin.
 
c. Hak Aksasi Manusia yang terkait dengan kesehatan
• Deklarasi Universal HAM 1948
Haka kebebasan mencari jodoh dan membentuk keluarga, perkawinan harus dilaksanakan atas dasar suka sama suka (Pasal 16). Hak kebebasan atas kualitas hidup untuk jaminan kesehatan dan keadaan yang baik untuk dirinya dan keluarganaya (Pasal 25).
• UU No. 7 Tahun 1984 (Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita:
Jaminan persaman hak ats jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk usaha perlinduangan terhadap fungsi melanjutkan keturunan (Pasal 11 ayat 1f).
Jamainan hak efektif untuk bekerja tanpa dikriminasi atas dasar perkwainan atau kehamilan (Pasal 11 ayat 2).
• Penghapusan diskriminasi di bidang pemeliharaan kesehatan dan jaminan pelayanan kesehatan termasuk pelayanana KB (Pasal 12).
• Jamianan hak kebebasan wanita pedesaan untuk memperoleh fasilitas pemeliharaan kesehatan yang memadai, termasuk penerangan, penyuluhan dan pelayanan KB (Pasal 14 ayat 2 b).
• Penghapusan diskriminasi yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan kekeluargaan atas dasar persaman antara pria dan wanita (pasal 16 ayat 1).
• UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
Setiap orang berhak membentuk suatua kelauarga dan melanjutkan keturunan melalui pekawianana yang sah (Pasal 10).
Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak (Pasal 11).
Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu (Pasal 30).
Hak wanita dalam UU HAM sebagai hak asasi manusia (Pasal 45).
• Tap No. XVII/MPR/1998 tentang HAM
Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (Pasal 2).
Hak atas pemenuhan kebutuhan dasar auntuk tumbuh dan berkembang secara layak (Pasal 3).
Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (Pasal 27).
Dalam pemenuhan hak asasi manusia, laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama (Pasal 39).
• Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan/profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita (Pasal 49 ayat 2).
• Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan dilindungi oleh hukum (Pasal 49 ayat 3).
• Hak dan tanggungjawab yang sama antara isteri dan suaminya dalam ikatan perkawainan (Pasal 51).
 
 
BAB III
PENUTUP
 
 
A. Kesimpulan
Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para perempuan bakal calon ibu ataupun laki-laki calon bapak. Oleh karena itu bverdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa.
• Definisi kesehatan sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dana sosial, ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syart baru, yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis maupun sosial.
• Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
• Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan waktu kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.
 
B. Saran
Untuk itu wawasan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk bisa dikuasai dan dimiliki oleh para perempuan dan laki-laki yang berumah tangga, supaya kesejahtaraan dan kesehatan bisa tercapai dengan sempurna. Oleh kerana itu penulis memberi saran kepada para pihak yang terkait khususnya pemerintah, Dinas Kesehatan untuk bisa memberikan pengetahuan dan wawasan tersebut kepada khalayak masyarakat dengan cara sosialisasi, kegiatan tersebut mudah-mudahan kesehatan reproduksi masyarakat bisa tercapai dan masyarakat lebih pintar dalam menjaga kesehatannya.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
 
Mona Isabella Saragih, Amkeb, SKM. Materi Kesehatan Reproduksi. Akademi Kebidanan YPIB Majalengka.

Asuhan Neonatus

MAKALAH ASUHAN NEONATUS

 NEONATUS & BAYI DENGAN MASALAH

 
   

“DIAPER RUSH”

 

DISUSUN OLEH :

Aryani Andi Lambere

PO.71.24.7.11.05

Semester IV

 

KATA PENGANTAR

 
Segala puji bagi ALLAH SWT, Tuhan seluruh alam atas rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan tugas “ASKEB III” yang berjudul “Neonatus dan bayi Dengan Masalah Diaper Rush

Ucapan terimakasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Kami berharap makalah ini berguna bagi para pembaca pada umumnya dan penulis sendiri khususnya, sehingga bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih baik lagi.

Kami menyadari penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran guna kesempurnaan makalah kami.

 

 

 

Biak 18 juni 201

 

penulis

 

PEMBAHASAN

 

  1. 1.     Pengertian / Definisi

Diaper Rush atau ruam popok adalah bintik-bintik warna merah dan bercak-bercak kasar ditengah daerah berwarna lebih merah dari kulit sekitarnya. Apabila terjadi infeksi maka terdapat juga gelembung kecil bernanah.
Lokasi : daerah yang berhubungan dengan popok ( lipatan paha, pantat, paha bagian dalam ).

  1. 2.     Penyebab

Beberapa faktor penyebab terjadinya ruam popok ( diaper rash, diaper   dermatitis, napkin dermatitis ), antara lain:

  • Iritasi atau gesekan antara popok dengan kulit.
  • Faktor kelembaban.
  • Kurangnya menjaga hygiene. Popok jarang diganti atau terlalu lama tidak segera diganti setelah pipis atau BAB (feces).
  • Infeksi mikro-organisme (terutama infeksi jamur dan bakteri)
  • Alergi bahan popok.
  • Gangguan pada kelenjar keringat di area yang tertutup popok.
  1. 3.     Berbagai bentuk gangguan kulit pada ruam popok

Beberapa gangguan kulit yang berhubungan dengan ruam popok, diantaranya:

  • Intertrigo, yakni iritasi atau lecet pada kulit dikarenakan kulit basah dan lembab serta gesekan dengan popok, sehingga permukaan kulit menjadi lebih mudah terkelupas.
  • Miliaria atau biang keringat, yakni timbulnya bintik-bintik merah pada permukaan kulit karena penyumbatan kelenjar keringat (kelenjar eccrine).

 

  • Dermatitis kontak (contact dermatitis), merupakan reaksi alergi terhadap bahan popok. Dapat juga karena reaksi alergi terhadap campuran urine dan feces yang dibiarkan terlalu lama melekat di popok. Selain itu, perubahan PH oleh urine dan feces pada kulit diduga memicu terjadinya reaksi alergi.
  • Candidal diaper dermatitis, yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans. Sekitar 40-70% ruam popok yang berlangsung lebih 3 hari dapat memicu terjadinya kolonisasi jamur kandida.
  • Bacterial diaper dermatitis, yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi kuman (bakteri), terutama Staphylococcus, Streptococcus dan Enterobacteriaceae. Jenis ruam popok karena infeksi kuman yang kerap dijumpai adalah impetigo dan sesulitis (cellulitis) serta folikulitis (folliculitis).
  • Granuloma gluteal infantum, merupakan gangguan kulit pada ruam popok yang jarang terjadi. Biasanya timbul karena terlalu lama iritasi dan infeksi mikro-organisme yang tidak diobati.

4. Penatalaksana

a. Daerah yang terkena diaper rush, tidak boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan tetap kering
b. Untuk membersihkan kulit yang iritasi dan menggunakan kapas yang mengandung minyak.
c. Segera dibersihkan dan dikeringkan bila bayi BAB dan BAK.
d. Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit/daerah yang iritasi.
e. Memperhatikan kebersihan kulit dan membersihkan kulit secara keseluruhan
f. Memelihara kebersihan pakaian dan alat-alatnya.
g. Pakaian/celana yang basah oleh air kencing harus direndam di dalam air di campur acidum boricun.

Tinja pada kulitnya, karena itu popok modern (popok) lebih baik dipakai secara bergantian dengan popok tradisional. Dengan demikian kulit bayi dapat diistirahatkan dari bersinggungan secara ketat dengan urin atau tinja.
Kecil kemerahan, lecet, dan kulit tampak merah dan basah. Ini karena urin dan tajam, terutama pada bayi atau anak yang mempunyai riwayat alergi pada keluarga. Iritasi memudahkan terjadinya infeksi bakteri/jamur.

 

 

5. Pengobatan

Pada prinsipnya, pengobatan ruam popok bergantung kepada penyebabnya. Ruam popok yang disebabkan iritasi dan miliaria, tidak memerlukan obat khusus. Cukup dengan menjaga agar popok tetap kering dan memelihara hygiene.

Pada ruam popok yang disebabkan oleh infeksi mikro-organisme, atau iritasi dan miliaria yang luas, obat-obat yang lazim digunakan, antara lain:

  • Bedak salisil dan bedak yang mengandung antihistamin. Hanya digunakan pada iritasi (intertigo) dan miliaria atas anjuran dokter. Pastikan bedak tidak berhamburan agar tidak mengganggu pernafasan si kecil.
  • Anti jamur. Digunakan pada ruam popok karena infeksi jamur (candidal diaper dermatitis). Pilih anti jamur berbentuk bedak (merk dagang, misalnya: daktarin powder dan mycorine powder), diberikan selama 3-4 minggu.
  • Anti infeksi topikal (salep, krim). Digunakan pada ruam popok yang disebabkan oleh infeksi bakteri ringan, misalnya bacitracin salep. Adapun untuk infeksi yang lebih berat, dapat digunakan anti infeksi oral (diminum), misalnya kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat dan diberikan pula anti infeksi topikal.
  • Steroid. Digunakan pada ruam popok yang disebabkan reaksi alergi, dioleskan 2 kali sehari hingga sembuh atau selama 2 minggu.

Walaupun ruam popok bukanlah penyakit yang serius, jika dalam 2-3 hari tidak kunjung sembuh, maka langkah terbaik adalah konsultasi ke dokter. Penggunaan anti jamur, anti infeksi dan steroid hendaknya hanya atas rekomendasi dokter.

TIPS MENCEGAH DAN MENGATASI RUAM POPOK

  • Apapun jenis popok yang digunakan, pastikan popok tetap bersih dan kering.
  • Hindari pemakaian popok yang ketat.
  • Ganti popok segera setelah si kecil buang air kecil atau BAB.
  • Gunakan air mengalir untuk membersihkan feces (tinja) dengan bilasan lembut. Usahakan tidak menggosok area dubur dan pantat agar tidak iritasi. Biarkan area pantat mengering oleh udara terbuka.
  • Jika si kecil mengalami ruam popok, dapat menggunakan krim pelindung kulit yang mengandung petrolatum dan zinc oxide. Oleskan secara lembut dan tipis sebagai pelindung kulit si kecil.
  • Konsultasikan ke dokter bila ruam popok tidak sembuh dalam 3 hari.

 

 

KESIMPULAN

Diaper Rush atau ruam popok adalah bintik-bintik warna merah dan bercak-bercak kasar ditengah daerah berwarna lebih merah dari kulit sekitarnya. Apabila terjadi infeksi maka terdapat juga gelembung kecil bernanah.
Lokasi : daerah yang berhubungan dengan popok ( lipatan paha, pantat, paha bagian dalam ).
Beberapa faktor penyebab terjadinya ruam popok ( diaper rash, diaper dermatitis, napkin dermatitis ), antara lain:

  • Iritasi atau gesekan antara popok dengan kulit.
  • Faktor kelembaban.
  • Kurangnya menjaga hygiene. Popok jarang diganti atau terlalu lama tidak segera diganti setelah pipis atau BAB (feces).
  • Infeksi mikro-organisme (terutama infeksi jamur dan bakteri)
  • Alergi bahan popok.
  • Gangguan pada kelenjar keringat di area yang tertutup popok.

Walaupun ruam popok bukanlah penyakit yang serius, jika dalam 2-3 hari tidak kunjung sembuh, maka langkah terbaik adalah konsultasi ke dokter. Penggunaan anti jamur, anti infeksi dan steroid hendaknya hanya atas rekomendasi dokter.


 

DAFTAR PUSTAKA

http://adhe-anwaradhe.blogspot.com/2009/04/diaper-ruzh.html

http://futshachubbiez.blogspot.com/p/diaper-rush.html

http://cakmoki86.wordpress.com/2010/01/25/ruam-di-balik-popok/

http://bayibalita.com/2010/10/penyebab-cara-mengatasi-ruam-popok/

http://www.scribd.com/doc/27516849/Diaper-Rash

http://www.wartamedika.com/2008/02/pengobatan-diaper-rash-ruam-popok.html

MAKALAH BIOLOGI REPRODUKSI

PERKEMBANGAN DAN PERSIAPAN KRHIDUPAN NEONATUS DARI INTRA KE EKSTRA UTERUS

DI

S

U

S

U

U

N

OLEH

NAMA : ARYANI ANDI LAMBERE

SEMERTER : IV (EMPAT)

NIM : P0.71.24.7.11.05

POLITEKNIK KESEHATAN JAYAPURA

PRODI D-III KEBIDANAN BIAK

2011-2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Masa Esa, karena berkat dan dan Rahmat_Nya, penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar dan tepat waktu.

Makalah ini di susun untuk melengkapi tugas BIOLOGI REPRODUKSI yang menyangkut  Perkembangan dan Persiapan Neonatus dari Intra ke Ekstra uterus

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan dalam bidang Biologi Reproduksi.

Apabila ada kata-kata yang tidak berkenang kami berharap saran-saran dari semua pihak demi penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan Berkat pada kita semua.

Biak, 25 JUNI 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

  1. KATA PENGANTAR
  2. DATAR ISI
  3. BAB I

–          PENDAHULUAN

  1. BAB II

–          PEMBAHASAN

  1. BAB III

–          PENUTUP

–          KESIMPULAN

  1. REFRENSI

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Neonatus memiliki basal metabolic rate (BMR) yang tinggi, sehingga membutuhkan oksigen lebih banyak dibanding bayi yang telah lahir. Konsentrasi hemoglobin fetus in utera yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi hemoglobin bayi yang telah lahir. Dalam beberapa minggu pertama setelah bayi dilahirkan, keadaan darah janin in utero kembali ke yang lazim ditemukan pada orang dewasa. Hal ini terjadi oleh karena sel darah merah neonatus kurang lama dapat bertahan dibandingkan dengan eritrosit orang dewasa, disamping menurunnya kapasitas sumsun tulang dalam menghasilkan eritrosit. Hal ini disebabkan oleh karena ketidakmampuan hepar bayi untuk meniadakan sampah hemoglobin.

1. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain :
– Untuk menjelaskan perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke ekstra uterus.

Bab ii

Pembahasan

1 Pernapasan

Janin dalam kandungan telah mengadakan gerakan-gerakan pernapasan, yang dipantau dengan ultrasonografi, akan tetapi likuonamnii tidak sampai masuk ke dalam alveoli paru-paru. Pusat pernapasan ini dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh janin itu. Apabila saturitas oksigen meningkat hingga melebihi 50% maka terjadi apnoe, tidak tergantung pada konsentrasi karbondioksida. Bila saturasi oksigen menurun, maka pusat pernapasan menjadi sensitif terhadap rangsangan karbondioksida. Pusat itu menjadi lebih sensitif bila kadar oksigen turun dan saturasi oksigen mencapai 25%. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi utero-plasenter (pengaliran darah antara uterus dan plasenta). Apabila terdapat gangguan pada sirkulasi utero plasenter sehingga saturasi oksigen lebih menurun, misalnya pada kontraksi uterus yang tidak sempurna, eklampsia,dan sebagainya maka terdapatlah gangguan-gangguan dalam keseimbangan asam dan basa pada janin tersebut, dengan akibat dapat melumpuhkan pusat pernapasan janin. Pada permukaan paru-paru yang telah matur ditemukan lipoprotein yang berfungsi untuk mengurangi tahanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada penarikan nafas pertama oleh janin. Pengembangan paru-paru disebabkan oleh adanya tekanan negatif di dalam dada lebih kurang 40 cm air- karena tekanan paru-paru waktu lahir sewaktu bayi menarik nafas pertama kali.

Adanya lipoprotein tersebut di atas, khususnya kadar lesitin yang tinggi, mencerminkan paru-paru itu telah matur. Lesitin adalah bagian utama dari lapisan di permukaan alveoli yang telah matur itu dan terbentuk melalui biosintesis. Pada waktu partus pervaginam, khususnya pada waktu badan melalui jalan lahir, paru-paru seakan-akan tertekan dan diperas, sehingga cairan-cairan yang mungkin ada di jalan pernapasan dikeluarkan secara fisiologik dan mengurangi adanya bagian-bagian paru-paru yang tidak berfungsi segera oleh karena tersumbat. Yang diperlukan pada keadaan bayi baru lahir tanpa atau dengan asfiksia livide ialah membersihkan segera jalan nafas dan memberikan pada bayi tersebut oksigen untuk meningkatkan saturasi oksigen. Hal ini penting dipahami oleh setiap penolong persalinan. Ketika partus, uterus berkontraksi, dalam keadaan ini darah di dalam sirkulasi utero plasenter seolah-olah diperas ke dalam vena umbilikalis dan sirkulasi janin, sehingga jantung janin terutama serambi kanan berdilatasi. Akibatnya, apabila diperhatikan bunyi jantung janin segera setelah kontraksi uterus hilang, akan terdengar melambat. Keadaan ini fisiologik, bukan patologik, dan dikenal sebagai refleks Marey. Ada yang mengemukakan bahwa timbulnya bradikardia pada his disebabkan oleh adanya asfiksia tali pusat dan meningkatnya vena kava inferior pada janin. Hon mempelajari bradikardia pada janin sewaktu ada his dengan fetal heart rate meter. Ia menemukan denyutan 140 per menit dapat menurun sampai 110 – 120 pada multipara, sedangkan pada nullipara kadang-kadang denyutan dapat menurun sampai 60 – 70 per menit, bradikardia ini terjadi segera pada permulaan his dan menghilang beberapa detik sesudah his berhenti. Hon dan kawan-kawannya mengemukakan bahwa bradikardia tersebut di atas tidak disebabkan oleh hipoksia janin, akan tetapi karena tekanan terhadap kepala janin oleh jalan lahir pada waktu ada his. Gejala ini biasanya ditemukan pada pembukaan 4 – 8 cm dan bila pada kepala bayi juga diadakan penekanan seperti pada waktu ada his.

Untuk klinik penting diperhatikan frekuensi denyutan jantung ini untuk mengetahui apakah ada gawat janin. Denyutan jantung beberapa detik sesudah his sebanyak 100 per menit atau kurang menunjukkan akan adanya gawat janin. Dalam keadaan normal frekuensi denyut jantung janin berkisar antara 120 – 140 denyutan per menit. Ketika partus denyut jantung ini sebaiknya didengar satu menit setelah his terakhir. Cara menghitung bunyi jantung janin adalah sebagai berikut : kita hitung denyut jantung dalam 5 detik pertama, kemudian 5 detik ketiga, kelima, ketujuh dan seterusnya sampai mencapai satu menit. Dengan cara ini dapat diperoleh kesan apakah denyut jantung janin tersebut teratur atau tidak. Tiap menit mempunyai jumlah tertentu. Jika jumlah permenit berbeda lebih dari 8, maka denyutan jantung itu umumnya tidak teratur jika jumlah denyutan jantung lebih dari 160 per menit, disebut ada takikardia : sedangkan jika kurang dari 120 menit, disebut ada bradikardia. Dengan mengadakan pencatatan denyut jantung janin yang dikaitkan dengan pencatatan his, dapat diramalkan ada atau tidak adanya hipoksia pada janin. Takikardia saja kadang-kadang dapat ditemukan pada ibu yang menderita panas. Dewasa ini pemantauan janin dilaksanakan dengan alat kardiotokograf.

Sistem pernafasan adalah sistem biologi semua organisma yang membabitkan pertukaran gas. Malah tumbuhan juga mempunyai sistem pernafasan, mengambil gas karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen ketika siang.
Sistem pernafasan manusia mengandungi :

  • Saluran pernafasan (nasal passage), di mana udara dilembabkan dan tempat deria bau berfungsi.
  • Farinks, kawasan umum di belakang mulut di mana udara, makanan dan air lalu
  • Larinks, atau peti suara
  • Trakea, saluran udara yang bersambung kepada bronchi
  • Tiub bronkus, yang membawa udara dari dan kepada paru-paru
  • Bronkiol, cabang bronkus yang menyebarkan udara ke alveoli
  • Alveolus, kantung akhir di mana berlaku pertukaran gas.

Alveolus dan bronkiol membentuk paru-paru. Udara bergerak keluar masuk dari paru-paru oleh pergerakan sangkar kerangka (rib cage) dan diafragma, yang mengembangkan paru-paru untuk menarik udara masuk dan mengempiskan paru-paru untuk menolak udara keluar. Model bagaimana paru-paru berfungsi boleh dibina dengan menggunakan jar loceng.
Terdapat empat asas mengukur isipadu paru-paru:

  • Isipadu pasang surut (tidal volume) (TV): isipadu udara pernafasan biasa seseorang itu.
  • Isipadu pernafasan simpanan (inspiratory reserve volume) (IRV): isipadu maksima udara yang boleh disedut, tambahan kepada isipadu sedutan biasa.
  • Isipadu simpanan hembusan (expiratory reserve volume) (ERV): isipadu maksima udara yang boleh dihembus, tambahan kepada isipadu hembusan biasa.
  • Isipadu baki (residual volume) (RV): jumlah udara yang tinggal di dalam paru-paru dan tidak dapat disingkirkan (Isipadu udara yang kekal dalam paru-paru selepas hembusan maksima).

Dari isipadu ini, beberapa kapasiti penting juga boleh dikira:

  • Kapasiti paru-paru sepenuhnya (total lung capacity) (TLC): isipadu paru-paru sepenuhnya (isipadu udara dalam paru-paru selepas sedutan maksima).
TLC = IRV + TV + ERV + RV
  • Kapasiti baki berfungsi (functional residual capacity) (FRC): jumlah udara tinggal di dalam paru-paru selepas pernafasan normal dihembus keluar.
FRC = ERV + RV

Haiwan boleh bernafas dengan pelbagai cara. Organ pernafasan haiwan terdiri daripada paru-paru, insang, liang pernafasan dan kulit. Terdapat beberapa jenis haiwan yang menggunakan cara lain untuk bernafas. Serangga air dan labah-labah air membawa bekalan udaranya sendiri dalam bentuk gelembung udara. Larva dan pupa nyamuk menggunakan tiup pernfasan untuk bernafas. Tumbuhan pula bernafas melalui stoma. Stoma ialah liang-laing seni yang terdapat pada daun. Stoma lebih didapati di bahagian bawah daun. Gas oksigen diserap masuk dan gas karbon dioksida dibebaskan melalui stoma. Pada sesetengah tumbuhan, stoma terdapat juga pada bahagian batang muda. Tumbuhan juga boleh bernafas melalui liang pernafasan yang terdapat pada bahagian ranting dan batang. Tumbuhan yang hidup di dalam air bernafas melalui ruang udara yang terdapat bahagian batangnya. Pokok bakau yang hidup di kawasan tanah berlumpur bernafas melalui akar pernafasan.

2. Sirkulasi Darah

Pada janin masih terdapat fungsi :
1) Foramen ovale
2) Duktus arteriosus botalli
3) Arteria umbilikaler laterales
4) Duktus venosus arantii

Mula-mula darah yang kaya oksigen dan nutrisi yang berasal dari plasenta, melalui vena umbikalis, masuk ke dalam tubuh janin. Sebagian besar darah tersebut melalui duktus venosus arantii akan mengalir ke vena kava inferior pula. Di dalam atrium dekstra sebagian besar darah ini akan mengalir secara fisiologik ke atrium sinistra, melalui foramen yang terletak diantara atrium dekstra dan atrium sinista. Dari atrium sinistra selanjutnya darah ini mengalir ke ventrikel kiri yang kemudian dipompakan ke aorta. Hanya sebagian kecil dari darah atrium kanan mengatur ke ventrikel kanan bersama-sama dan darah yang berasal dari paru-paru yang belum berkembang, sebagian besar darah dari ventrikel kanan ini, yang seyogyanya megnalir melalui arteria pulmoralis darah di aorta akan mengalir ke seluruh tubuh untuk memberi nutrisi dan oksigenasi pada sel-sel tubuh darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagainya akan dialirkan ke plasenta melalui 2 arteria umbilikalis. Seterusnya diteruskan ke peredaran darah di koteledon dan jonjot-jonjot dan kembali melalui vena umbilikalis ke janin. Demikian seterusnya sirkulasi janin ini berlangsung ketika janin berada di dalam uterus. Ketika janin dilahirkan, segera bayi mengisap udara dan menangis kuat. Dengan dengan demikian, paru-parunya akan berkembang, tekanan dalam paru-paru mengecil dan seolah-olah darah terisap ke dalam paru-paru. Dengan demikian, duktus botalli tidak berfungsi lagi. Demikian pula, karena tekanan dalam atrium kiri meningkat, foramen ovale akan tertutup, sehingga foramen tersebut selanjutnya tidak berfungsi lagi. Akan dipotong dan diikatnya tali pusat, arteri umbilikalis dan duktus vengsus arantii akan mengalami obiliterasi dengan demikian, setelah bayi lahir maka kebutuhan oksigen dipenuhi oleh udara yang diisap ke paru-paru dan kebutuhan nutrisi dipenuhi oleh makanan yang dicerna sistem pencernaan sendiri. Dewasa ini, daspat dipantau peredaran darah janin dan denyutan-denyutan di tali pusat.

Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis). Ada dua jenis sistem peredaran darah: sistem peredaran darah terbuka, dan sistem peredaran darah tertutup. sistem peredaran darah,yang merupakan juga bagian dari kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem ini menjamin kelangsungan hidup organisme, didukung oleh metabolisme setiap sel dalam tubuh dan mempertahankan sifat kimia dan fisiologis cairan tubuh. Pertama, darah mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel dan karbon dioksida dalam arah yang berlawanan (lihat respirasi). Kedua, yang diangkut dari nutrisi yang berasal pencernaan seperti lemak, gula dan protein dari saluran pencernaan dalam jaringan masing-masing untuk mengonsumsi, sesuai dengan kebutuhan mereka, diproses atau disimpan. Metabolit yang dihasilkan atau produk limbah (seperti urea atau asam urat) yang kemudian diangkut ke jaringan lain atau organ-organ ekskresi (ginjal dan usus besar). Juga mendistribusikan darah seperti hormon, sel-sel kekebalan tubuh dan bagian-bagian dari sistem pembekuan dalam tubuh.

Pembuluh nadi atau arteri adalah pembuluh darah berotot yang membawa darah dari jantung. Fungsi ini bertolak belakang dengan fungsi pembuluh balik yang membawa darah menuju jantung.
Sistem sirkulasi sangat penting dalam mempertahankan hidup. Fungsi utamanya adalah menghantarkan oksigen dan nutrisi ke semua sel, serta mengangkut zat buangan seperi karbon dioksida. Pada negara berkembang, dua kejadian kematian utama disebabkan oleh infark miokardium dan stroke pada sistem pembuluh nadi, misalnya arterosklerosis.
Pembuluh balik atau vena adalah pembuluh yang membawa darah menuju jantung. Darahnya banyak mengandung karbon dioksida. Umumnya terletak dekat permukaan tubuh dan tampak kebiru-biruan. Dinding pembuluhnya tipis dan tidak elastis. jika diraba, denyut jantungnya tidak terasa. Pembuluh vena mempunyai katup sepanjang pembuluhnya. Katup ini berfungsi agar darah tetap mengalir satu arah. Dengan adanya katup tersebut, aliran darah tetap mengalir menuju jantung. Jika vena terluka, darah tidak memancar tetapi merembes.
Dari seluruh tubuh, pembuluh darah balik bermuara menjadi satu pembuluh darah balik besar, yang disebut vena cava. Pembuluh darah ini masuk ke jantung melalui serambi kanan. Setelah terjadi pertukaran gas di paru-paru, darah mengalir ke jantung lagi melalui vena paru-paru. Pembuluh vena ini membawa darah yang kaya oksigen. Jadi, darah dalam semua pembuluh vena banyak mengandung karbondioksida.

3. Traktus Digestivus

Pada kehamilan empat bulan, alat pencernaan ini telah cukup terbentuk dan janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga dengan demikian janin membantu pula dalam perputaran air ketuban. Absorbsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh traktus digestivus. Bahwa janin menelan air ketuban, dapat dibuktikan dengan adanya lanugo, verniks kaseosa dimekonium setelah bayi dilahirkan. Warna hijau tua mekonium disebabkan oleh pemecahan bilirubin. Marconium dapat keluar per anum bila timbul hipoksia berat, sehingga usus-usus mengadakan peristaltik, sedangkan muskulus sfingter ani dalam keadaan lumpuh. Dengan demikian mekonium mencampuri likuor amnii, yang kemudian berwarna kehijau-hijauan. Juga bila ada tekanan di dalam uterus yang meningkat hingga menekan isi abdomen janin, umpamanya pada janin dalam letak sungsang, mekonilum secara mekanik keluar dari anus. Juga obat yang meningkatkan mekanisme peristaltik pada ibu, dapat pula melalui plasenta dan memberi akibat yang sama pada janin. Pada umumnya janin menelan rata-rata 450 ml air ketuban setiap harinya. Hepar janin pada kehamilan empat bulan mempunyai peranan dalam hemopoesis. Pula dalam metabolisme hidrat arang mulai berperan. Glikogen mulai disimpan dalam hati, yang pada akhir triwulan makin meningkat. Sesudah bayi dilahirkan, simpanan glikogen ini cepat terpakai. Vitamin A dan D disimpan juga dalam hati. Bahwa hepar janin masih imatur dalam fungsinya selama dalam kandungan dan pula sesudah dilahirkan, dinyatakan oleh ketidakmampuannya untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah, plasenta dan hati ibu menyelesaikan ini. Akan tetapi, sebagian kecil bilirubin diolah oleh hepar janin dan disalurkan ke usus melalui saluran empedu dimana dialami oksidasi dijadikan biliverdin. Pigmen inilah yang membuat warna mekonium kehijau-hijauan. Pada umumnya plasenta dapat meniadakan dengan cepat bekas-bekas metabolisme bilirubin. Akan tetapi pada keadaan dimana hemadisit darah terlalu cepat, umpamanya dalam hal eritroblastosis fetalis, mekanisme di plasenta tidak dapat mengetahuinya. Akan timbul hiperbilirubinemia dengan pigmen yang akibatnya dapat ditemukan di dalam air ketuban. Adanya pigmen tersebut dalam likuor amnii dipakai untuk membuat diagnosis dan mengadakan penilaian mengenai kehamilan demikian itu imaturitas hepar yang menyangkut fungsinya dalam sistem enzim ialah mengenai kekurangan enzim glukorunil transferase, yang terjadi hingga dalam masa neonatus dan dalam waktu yang berbeda-beda. Terutama ini terjadi pada bayi prematur yang tidak mudah meniadakan hasil pengolahan hemoglobin melalui heparnya. Timbulnya ikterus neonatorum dalam hal ini agaknya disebabkan oleh hal tersebut di atas. Pankreas telah mulai berfungsi meskipun amat terbatas. Insulin telah dapat ditemukan pada kehamilan 13 minggu dan produksinya meningkat dengan tuanya kehamilan. Pada ibu dengan diabetes mellitus tampak adanya hipertrofi sel-sel longerhons. Akan tetapi, bukti bahwa insulin janin membantu ibunya dalam hal diabetes melitus belum ada.

4. kelenjar Endokrin

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai “pembawa pesan” dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Cabang kedokteran yang mempelajari kelainan pada kelenjar endokrin disebut endokrinologi, suatu cabang ilmu kedokteran yang cakupannya lebih luas dibandingkan dengan penyakit dalam.

Pada kehamilan 10 minggu koritkotropin telah dapat ditemukan dalam hipofisis fetus. Hormone ini diperlukan untuk mempertahankan glandula suprarenalis fetus.

Hormon somatomammotropin ditemukan di daerah tali pusat dengan kadar yang tinggi. Hormon ini memang dibentuk di plasenta disamping oleh hipofisis fetus, meskipun dalam jumlah yang terbatas. Pada kehamilan 10-14 minggu kelenjar gondok janin telah berfungsi menyimpan iodium dan menghasilkan tiroksin.

Glandula suprarenalis fetus lebih besar jika dibandingkan dengan apa yang ditemukan pada orang dewasa. Yang menbuatnya jauh lebih besar ialah bagian korteks. Bagian yang menjadi besar mengecil, segera sesudah bayi dilahirkan. Aldeoteron biasanya ditemukan dalam konsentrasi yang meningkat dan mudah melintasi plasenta.

Testes fetus dapat mengadakan sintesis androgen. Teosyeron dan androstenedion dapat ditemukan ditestes fetus yang imatur.

5. Urat Saraf

Jika janin pada kehamilan 10 minggu dilahirkan hidup, maka dapat dilihat bahwa fetus tersebut dapat mengadakan gerakan-gerakan spontan. Rangsangan local dapat membuat janin menganga dalam mengadakan fleksi pada jari-jari tangan serta kaki. Gerakan menelan baru terjadi pada kehamilan 4 bulan, sedangkan menyedot baru pada kehamilan 6 minggu.

Dalam triwulan terkahir hubungan urat saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih sempurna, sehingga fetus yang dilahirkan sesudah kehamilan 32 minggu dapat hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan mata fetus amat sensitif untuk cahaya. Bagian dalam tengah, dan luar telinga dibentuk dalam triwulan kedua. Dewasa ini dipakai untuk penilaian adanya kelainan organic pada urat saraf ultrasonografi (USG) dan Magnetic resonance Imaging (MRI).

HNP kepanjangan dari ‘Hernia Nucleus Pulposus‘, yaitu tergesernya cakram tulang rawan penyekat antar badan ruas tulang belakang sehingga ‘nucleus pulposus’ sentral cakram tulang rawan tergeser keluar dari biasanya ke arah kiri atau kanan dan akan langsung menekan jaras saraf paravertebral.
Struktur tulang belakang (kolumna vertebralis) juga memiliki persendian. Serangkaian silinder korpus vertebra yang menyusun kolumna vertebralis dihubungkan oleh persendian yang dinamakan diskus intervertebralis, yang berfungsi membantu meredam tekanan dan regangan (seperti shock breaker) yang terjadi terhadap kolumna vertebralis.

Fungsi mekanik diskus ini mirip balon berisi air yang diletakkan di antara dua telapak tangan. Bila ada tekanan (kompresi) ke tulang belakang, karena misalnya melakukan suatu gerakan, tekanan itu akan disalurkan merata ke seluruh diskus. Gaya pada diskus akan semakin bertambah jika kita membungkuk. Kadar cairan dan elastisitas diskus bisa menurun dan rapuh antara lain karena penuaan. Tapi pada usia muda bisa juga terjadi karena dasarnya memang sudah lemah atau seseorang pernah mengalami trauma (kecelakaan). Gerakan yang berulang pada satu sisi diskus bisa menimbulkan sobekan pada masa fibroelastis yang membungkus diskus yang sekaligus akan menjadi titik lemahnya (resistensi locus minoris). Sampai di sini belum timbul nyeri. nyerinya baru mulai terasa jika sudah ada titik lemah, Sebuah gerakan kecil saja, seperti membungkuk memungut koran pagi di teras, bisa menyebabkan pergeseran diskus.

Setiap diskus terdiri atas jaringan sel yang mengandung gelatin, seperti bubur yang disebut nukleus pulposus, yang dikelilingi jaringan ikat tebal (anulus fibrosus). Diskus ini melekat erat dengan jaringan tulang rawan yang melapisi permukaan atas dan bawah masing-masing korpus vertebralis.

Di daerah servikal (leher) dan lumbal (pinggang) yang relatif lebih mobile, diskus intervertebralis lebih tebal, namun jaringan fibrokartilago (jaringan ikat dan tulang rawan) di daerah belakang lebih tipis dibanding dengan diskus intervertebralis lainnya, yang keseluruhannya berfungsi untuk memungkinkan kita bergerak dengan bebas. Karena alasan ini juga, herniasi paling sering terjadi di daerah leher dan pinggang.

Insiden tertinggi HNP terjadi pada usia 30-50 tahun, saat nukleus pulposus masih bersifat gelatinous. Kandungan air di dalam diskus akan berkurang secara alamiah akibat bertambahnya usia.

6.Imunologi

Imunologi adalah cabang yang luas dari ilmu biomedis yang mencakup studi tentang semua aspek dari sistem kekebalan tubuh dalam semua organisme. Ini berkaitan dengan, antara lain, fungsi fisiologis dari sistem kekebalan tubuh dalam keadaan kesehatan dan penyakit, malfungsi sistem kekebalan tubuh pada gangguan imunologi (penyakit autoimun, hypersensitivities, defisiensi imun, penolakan transplantasi), kimia, fisik dan fisiologis karakteristik komponen dari sistem kekebalan tubuh secara in vitro, in situ, dan in vivo. Imunologi memiliki aplikasi dalam beberapa disiplin ilmu pengetahuan, dan dengan demikian dibagi lagi.

Bahkan sebelum konsep kekebalan (dari”immunis”, bahasa Latin untuk “dibebaskan”) dikembangkan, banyak dokter awal dicirikan organ yang nantinya akan terbukti menjadi bagian dari sistem kekebalan tubuh. Organ limfoid kunci utama dari sistem kekebalan tubuh yang timus dan sumsum tulang, dan jaringan limfatik sekunder seperti limpa, tonsil, pembuluh getah bening, kelenjar getah bening, kelenjar gondok, dan kulit. Ketika kondisi kesehatan menjamin, organ-organ sistem kekebalan tubuh termasuk timus, limpa, sumsum tulang porsi, kelenjar getah bening dan jaringan getah bening sekunder dapat pembedahan dikeluarkan untuk pemeriksaan sementara pasien masih hidup.
Banyak komponen dari sistem kekebalan tubuh sebenarnya seluler di alam dan tidak berhubungan dengan organ tertentu melainkan tertanam atau beredar di berbagai jaringan di seluruh tubuh.

Smith mengemukakan bahwa dari kehamilan 8 minggu telah ada gejala terjadinya kekebalan dengan adanya limfosit-limfosit di sekitar tempat timus kelak. Dengan tuanya kehamilan jumlah limfosit didalam darah perifer meningkat dan mu;ai terbentuk pula folikel-folikel di mana-mana. Jumlah folikel limfe yang terbanyak terdapat pada akhir kehamilan misalnya dilimpa yang pada permulaan hanya memperlihatkan jaringan yang berwarna merah saja. Dengan tuanya kehamilan ditemukan sarang – sarang sel limfoid yang makin lama makin besar dalam jumlah yang kian meningkat.

Perlindungan pasif yang diterima oleh fetus dari ibu dalam bentuk gamma-G- Imunoglobin yang disalurkan melalui plasenta terjadi pada imunisasi terhadap difteria, tetanus, campak, cacar, poliomelitus, Coxsackie virus, dan herpes simpleks. Kekebalan yang diterima itu tergantung pada tingginya kadar benda penagkis ibu.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke ekstra melalui beberapa tahap yang perlu dipelajari diantaranya pernapasan, sirkulasi dan trafetus digestivus.

REFRENSI

  1. http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2011/12/makalahperkembangan-dan-persiapan.html
  2. Buku ajar Neonatus, bayi dan balita/Dwi Maryanti,S.SIT, Sujianti, SST, Tri Budianto, SST, Jakarta ; Tim, 2011
  3. Asuhan neonatus bayi dan balita/Aibyeyeh Rukiyah, S. Si.T, lia Yulianti, Am. Keb, MKM, ; Jakarta: Tim, 2010
  4. Prawirohardjo Sarwono, Ilmu Kebidanan. 2010. YBP-SP. Jakarta